Our Mindset is the Beginning of Our Destiny. Philemin Robert Antonis

Our Mindset is the Beginning of Our Destiny. Philemin Robert Antonis
Our Mindset is the Beginning of Our Destiny. Robert Philemon Antonis
Tampilkan postingan dengan label kesan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Juni 2011

Wow...

Pengalaman yang saya dapatkan selama mengikuti perkuliahan Mr. Robert adalah...

Saya sangat terkesan sekali, karena metode pengajaran yang disampaikan sangat menarik dengan gaya pengajaran yang serius, tapi santai. 
Selain itu, yang membuat saya senang mengikuti perkuliahan bersama Mr.Robert adalah bahasa yang disampaikan bilingual, jadi sangat menarik dan mudah dimengerti. 
Dan selama kuliah Mr.Robert tidak hanya mengajarkan teori di buku saja, tetapi disisipkan pengalaman-pengalaman di lapangan, sehingga bisa mengubah pola berpikir kita menjadi lebih baik. 

Thx to Mr. Robert! 
Gbu always…..







Joan Nita (M. Ak 6)

Rabu, 29 Juni 2011

Passion yang sesungguhnya

Kesan pertama kenal beliau, beliau adalah pribadi yang menarik, menyenangkan, sangat khas. Apa yang disampaikan adalah hal-hal yang lama tetapi dengan sudut pandang yang berbeda menjadi luar biasa. Passionpassion itu dikerjakan dengan begitu taft, setia betapapun penderitaan mendera, yang didukung oleh integritas yang tinggi. adalah kata-kata yang jamak dilakukan ketika orang berjuang mencapai sesuatu. Tetapi menjadi berbeda ketika

Hal-hal kecil seperti inilah yg jarang terpikirkan oleh orang awam. Mata dan mindset kami seakan dibuka, kepala kami seakan "dipancung" dan digantikan oleh kepala dengan mindset baru yang lebih sederhana, namun lebih smart dan sharp.

Robert mengajarkan banyak hal pada kami, teori boleh didewakan, namun tidak selama teori itu mampu menjadi solusi tiap persoalan dalam organisasi karena banyak faktor dan variabel yang tak pernah dipelajari dalam teori di sekolah manapun. Ambil saja 20 persen teori, sisanya too good to be true, dia bilang.
Teori hanya sebuah impian hidup di negeri awan, tanpa dosa dan persoalan. Padahal di dalam organisasi justru sumber persoalan di sana. Robert mengajarkan bagaimana menghadapi persoalan dalam organisasi dengan begitu sederhana yang kadang tidak pernah dipelajari di sekolah manapun.

Robert menjadi inspirasi bagi kami, bahwa urus diri sendiri dulu sebelum mengurus orang lain, ubah habit-mu untuk menentukan nasibmu sendiri, mencapai sesuatu kuncinya adalah passion dan dengan integritas tinggi.
Robert adalah teman dan mitra belajar terbaik kami.






 Salam,
Rudi Santoso (MM 41)

Menjadi Berkat

Thank's God untuk chance yang diberikan kepada saya bisa mengenal Mr.Robert.
Banyak sekali pengalaman hidup yang telah di-share oleh Mr.Robert. Terlebih dia menganggap kami semua sebagai mitra-nya, bukan siswa-nya.

Hal yang sangat berkesan bagi saya adalah beliau mengingatkan kepada saya, mengenai makna 'menjadi berkat'. Agar orang-orang lain di sekitar saya juga dapat memberkati, sehingga berkat tersebut akan terus tersalurkan.

Hal yang sulit adalah memulai dari diri sendiri. Karena sebagai manusia, tentu kita masing-masing punya keterbatasan, sehingga kadang ego juga masih ada. Sering timbul pertanyaan, yang seharusnya tidak perlu dipertanyakan, seperti "Mengapa aku? Mengapa ini terjadi?" dan seterusnya...
Keragu-raguan serta kekurang-percaya diri masih mudah timbul.
Mr.Robert memberi inspirasi bagaimana cara dia menghadapi 'kerasnya dunia', from zero to hero!
Melalui Mr.Robert, saya belajar untuk mau 'diproses' menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Semoga kami dapat bertemu kembali di lain kesempatan. Dan saat itu, saya telah menjadi Sandra yang lebih baik lagi. Sehingga saya juga dapat menjadi 'berkat' bagi Mr. Robert (o^0^o)







Kind regards,
Sandra Yunita (MM 41)

Paradigma Baru

Mr. Robert adalah pengajar yang sangat inspirasional, beliau mengajar tidak hanya berdasarkan text book yang membosankan, tetapi juga mengajarkan apa yang benar-benar terjadi dalam organisasi-organisasi di Indonesia, sehingga kami bisa mendapatkan gambaran yang nyata atas budaya organisasi di beberapa perusahaan di Indonesia.

Ada dua poin yang benar-benar menginspirasi saya selama pengajaran Mr. Robert. 

Poin pertama: tidak ada budaya organisasi yang benar dan salah, jika kita merasa tidak nyaman berada dalam suatu organisasi, bukan berarti budaya organisasi itu yang salah, melainkan kepribadian kita yang tidak sesuai dengan budaya organisasi tersebut. Jadi, dalam memilih perusahaan tempat kita bekerja, kita harus mengetahui dengan benar, apakah budaya perusahaan tersebut sesuai dengan kepribadian kita atau tidak, karena jika tidak sesuai, itu akan menyebabkan kita tertekan dan tidak nyaman dalam bekerja, yang akan mengakibatkan kita tidak bisa optimal dalam bekerja. 

Sedangkan, poin kedua yang menginspirasi saya adalah: dalam bekerja, kita harus mengusahakan yang terbaik, dan kita harus berpikir bahwa semua yang kita lakukan itu kita persembahkan untuk Tuhan.

Terima Kasih Mr. Robert, dan Sukses Selalu ^_^









Aileen Junita C. (MM 41)

Pembelajaran yang tidak terlupakan

Pertama kali saya berjumpa dengan Mr. Robert bukanlah di kelas. Kami bertemu secara tidak sengaja di ruang Dekanat FBE UBAYA. Waktu itu, saya sedang menunggu bimbingan thesis dengan Pak Joko. Tiba-tiba, saya melihat seorang yang tinggi besar dan tersesat. Entah kenapa saya tergerak untuk membantunya, ternyata dia mencari Ibu Etty. Sambil mengantarnya, dia mengajak bicara dan bertanya banyak hal. Akhirnya, sampailah kami di ruang TU Pasca. Di ujung kejadian itu, dia pun menjabat tangan saya, mengajak berkenalan, "Hai, I'm Robert.". Barulah saya tahu bahwa dia adalah dosen Budaya Organisasi (BO). Glodak...

Pertemuan pertama di kelas pun menjadi agak berbeda, karena:
  1. Dosennya datang on time, mahasiswanya kalah cepat datangnya..hehehehe..(sangat disiplin)
  2. Setiap mahasiswa yang datang, langsung diajak untuk berjabat tangan dan berkenalan. Suatu kebiasaan yang baru saya lihat di UBAYA selama saya kuliah S1 dan S2 ini. (Beliau adalah orang yang ramah, proaktif, dan bersahabat).
Dua hal tersebut tidak berhenti sampai di sana, kami pun dikejutkan dengan kejutan-kejutan dari Beliau. Bahasa pengantar yang digunakan dalam perkuliahan, yaitu bilingual (bahasa Indonesia dan bahasa Inggris) supaya kami semua dapat mengerti apa yang Beliau jelaskan. Belum lagi ditambah dengan anekdot-anekdot dan 'wujud asli' Mr. Robert yang jenaka membuat kelas menjadi lebih menarik untuk diikuti. Mr. Robert selalu mendukung kami untuk membagikan apa yang sedang kami pikirkan, pengalaman apa yang telah kami alami dalam dunia kerja (bagi yang telah bekerja). Belum lagi, ditambah dengan video-video yang lucu, namun jika disadari, mungkin kita melakukan hal yang konyol tersebut dalam kehidupan kita. Selain itu, tidak hanya teori saja yang diajarkan, tetapi juga aplikasinya dalam hidup sehari-hari. Pengetahuan hanyalah pengetahuan jika tidak tahu bagaimana caranya kita mengaplikasikannya. Pengalaman Beliau dalam berbisnis dan menjadi mentor sangat membantu kami untuk mengerti apa sebenarnya budaya organisasi itu dan bagaimana menerapkannya. Hal ini membuat proses belajar kami makin lengkap dari berbagai aspek.

"Behind the gun, there are men or women", manusia adalah penggerak dari budaya organisasi tersebut. Oleh karena itu, untuk mengelola sumber daya manusia, terutama ketika terjadi konflik, Beliau sangat menekankan bahwa jangan bertanya "Siapa yang salah?", tetapi "Apa yang salah?". Dengan bertanya seperti itu, mereka tidak akan saling menyalahkan atau menjatuhkan, namun sama-sama sadar untuk introspeksi diri dan berusaha  mencari solusi bersama.

Selain itu, Mr. Robert juga mengajak kami untuk melihat fenomena sosial yang ada. Fenomena budaya image yang terjadi di Indonesia, budaya yang hanya melihat dari apa yang dimiliki orang lain. Mementingkan materi, namun melupakan esensi yang penting, yaitu moral. Hanya mindset yang benar yang dapat menjadi solusi dari fenomena tersebut dan hal itu harus dimulai dari diri kita masing-masing. Dari mindset tersebut, terbentuk integritas diri dan kita harus menularkannya juga kepada orang lain melalui kehidupan kita sehari-hari, sehingga kita boleh menjadi berkat bagi orang lain. Hal ini memang sulit, tapi menjadi mungkin untuk dilakukan karena kita memiliki Tuhan yang selalu membimbing kita.

Pengalaman belajar bersama Mr. Robert merupakan kesempatan yang luar biasa bagi saya. Saya boleh mengenal suatu pribadi yang perkataan dan perbuatannya sesuai, tidak hanya 'omong doank'. Beliau juga telah menuntun kami ke paradigma berpikir yang lebih baik. Kesabaran, antusiasme yang tinggi, passion berbagi yang berkobar-kobar telah membakar kami untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Banyak terima kasih buat Mr. Robert yang telah memberikan banyak hal untuk kami, terutama untuk masa depan kami. Mr. Robert tidak memberikan kami ikan, tapi alat pancing dan cara memancing. 
You are not teacher, but you are elicitor.
God bless you abundantly and always, Sir!





 
Monika Setyowati H. (M.Ak 6)

Kesan Pertama

Kesan pertama dari Mr. Robert adalah Beliau adalah orang yang baik dan ramah. Hal ini dapat diingat dari cara bagaimana Beliau menyapa kami. Beliau menyapa kami dengan cara yang enerjik, dengan senyuman yang menarik dari wajahnya. Pertemuan pertama kami di kelas Budaya Organisasi menjadi lebih menyenangkan. Tiga SKS berlalu tanpa disadari karena Beliau mengajar dengan sangat antusias.

Kami mendapat banyak hal mengenai pengetahuan dan pengalaman dari Beliau. Beliau mengajarkan mengenai
kekuatan mindset; pentingnya untuk menjadi berkat bagi orang lain; keseimbangan dalam hidup kita, relasi dengan Tuhan dan makhluk ciptaan lainnya; pentingnya menjadi inspirasi; dan sebagainya.

Semua hal Beliau ajarkan dengan terbuka dan membentuk cara berpikir dan bertindak. Beliau tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga membagikan mengenai praktik dalam kehidupan. Beliau sangat menghargai pemikiran kami, sehingga kami dapat mengungkapkannya dengan leluasa. Kami merasa berdiskusi dengan teman, dosen, dan penasihat. Pengalaman Beliau adalah pembelajaran bagi kami. Gaya mengajarnya pun sangat atraktif, juga dengan jargonnya "brekele".

Sangat senang bertemu dengan Anda, Mr. Robert ~_^

Regards,
 








Ristanti Akseptori (MM 41)

Ternyata...

Banyak hal yang aku peroleh ketika beberapa kali berada dalam kelas Budaya Organisasi Mr. Robert. Mungkin aku bisa sedikit sharing terkait apa pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh Mr. Robert serta bagaimana pengalaman yang aku rasakan dengan beliau.

Pada awalnya, ketika saya mendengar bahwa dosen berikutnya yang akan mengisi kelas Budaya Organisasi adalah orang luar yang memiliki banyak skill dan menguasai banyak bahasa, aku langsung memiliki pemikiran “wah bakalan ribet and susah nih”…

Tapi semua pikiranku salah, ketika pertama kali beliau mengajar, aku langsung bisa melihat kalau orang ini memiliki niat tulus dalam membantu kita untuk lebih mengerti tentang apa dan bagaimana Budaya Organisasi…
Selain itu, tidak hanya terkait Budaya Organisasi, melainkan beliau juga bercerita banyak tentang kehidupan beliau dan apa aja yang sudah beliau lalui selama hidup 50 tahun ini (beliau sih bilangnya umurnya sdh 50 tahun), hehehe…..

Oke… Langsung aja ke topik apa dan bagaimana pengalamanku selama berada didalam kelas yang beliau ajar. Well…. Aku mendapat banyak pencerahan dari beliau mulai dari bagaimana budaya organisasi begitu penting dalam perusahaan hingga bagaimana kita sebagai pemimpin harus meletakkan budaya yang tepat dan benar untuk organisasi yang kita pimpin.
Selain itu, satu hal yang membuat aku berpikir adalah perkataan beliau yang mengharuskan kita untuk selalu bertanya “apa yang salah?", bukan "siapa yang salah?”…

Semua yang aku peroleh benar-benar bermanfaat buat diriku secara pribadi untuk lebih bisa hati-hati dan bijak dalam menjalani kehidupanku…

Thank’s Mr. Robert…. You’re not only lecturer, but more….






Prabowo Yuniarko a.k.a Bowo (MM 41)

Blessings from the Charismatic Guru

Whatever you do, work at it with all your heart, as working for the Lord, not for men.”
[Colossians 3:23]

Petikan kalimat di atas menggambarkan poin terpenting yang saya serap dari Mr. Robert, sosok yang teramat kharismatik dan saya hormati. Apapun yang kita lakukan, jangan lupakan integritas. Integritas sejatinya berarti kesempurnaan, kesatuan, keterpaduan, ketulusan, mendukung pembentukan sosok pribadi manusia sesuai yang diharapkan yaitu manusia yang “mulia”. Integritas saya artikan demikian: melakukan segala yang harus saya lakukan agar menjadi manusia yang sesuai dengan kehendak Tuhan sang pencipta.

Inti yang saya tangkap adalah bila seseorang memiliki integritas, dalam kehidupan kesehariannya mampu menjadi sosok manusia panutan, atau sebagai tuntunan, bukan tontonan. Sosok manusia seperti itu sangat jarang dijumpai, bahkan mungkin tidak ada, apalagi dijaman seperti sekarang ini. Padahal, kata Integritas cocok dan relevan dengan  kondisi bangsa Indonesia yang sedang berbenah diri melalui good governance dan clean government. Yang penting bagi kita sekarang ini adalah membuat mengadakan “perubahan” menjadi manusia Indonesia yang lebih baik. Bagaimana caranya? Jawabannya saya pelajari dari Mr. Robert: be a blessings!

Bagi saya beliau ini lebih dari dosen, Mr. Robert adalah inspirator bagi kita semua. Bertemu Mr. Robert benar-benar terasa seperti berkat. Setiap kali kelas masuk Mr. Robert selalu penuh antusiasme tinggi mengajar dan selalu berbagi hal-hal baru. Kalau saya metaforkan, Mr. Robert ibarat obor yang menyala, mungkin obor olimpiade yang tidak bisa padam. Motivasi beliau untuk mengajar sangat besar, lebih dari yang diajar, bahkan mungkin tiga hingga empat kali lipat, sehingga yang kami semua juga turut terbakar oleh ‘obor’ beliau.

Mr. Robert selalu mengajarkan mata kuliah dengan menyenangkan, ramah dan cerdas. Beliau menyajikan berbagai informasi yang sangat bermanfaat, yang diajarkannya tidak hanya sekedar teori akan tetapi beliau juga mengajarkan bagaimana aplikasinya di dalam kehidupan nyata. Inilah tipe dosen yang membuat negara kita bisa berkembang. Sekali lagi, yang menarik adalah cara Mr. Robert membawakan kuliah, sungguh tidak seperti kuliah pada umumnya, lebih ke arah diskusi yang asyik adalah beliau selalu melempar joke yang asik, orisinil dan relevan. Ya relevan dalam arti tidak mengada-ada, tetap dalam koridor  topik yang dibahas.

Kalau ada dosen yang tidak mau beradu argumen dengan mahasiswa, Mr. Robert sungguh berbeda. Beliau mengajak mahasiswa menjadi Agent of Change. Beliau mengajak kami semua untuk berpikir kritis, maju, dan yang paling menyenangkan adalah kami berdiskusi bersama, belajar bersama dan mencoba mencerna secara mendalam mengenai topik-topik perkuliahan, dengan bimbingan Mr. Robert tentunya.

Saya ingat pada kelas pertama Mr Robert yang selalu ramah dan (hampir) selalu pakai batik ini menyapa kita satu persatu dengan ramah. Jelas sekali orangnya humble. Sungguh orisinil! Sejujurnya saya katakan, saya belum pernah bertemu dengan dosen seperti Mr. Robert. Bahkan, rekan-rekan ‘seperjuangan’ saya yang awalnya hanya masuk untuk sit in sekali dua kali menjadi ketagihan untuk ikut kelas beliau. Cool! Smart tapi low profile. Sungguh luar biasa. Kecintaan Mr. Robert pada Indonesia membuatnya selalu tampil ber-Batik-ria (saya jadi terinspirasi juga). Itu hanya pada tahapan artefak, tapi jauh di dalam hati, pikiran dan jiwanya berkibar merah putih.

Mr. Robert menurut saya sosok inspirator yang mempunyai minat tinggi dalam pengabdian, entah untuk perguruan tinggi, pemerintah ataupun masyarakat. Hal ini nampak dari banyak hal. Pengabdiannya selama 5 tahun pada Pemerintah Daerah Jawa Timur. Juga motivasinya untuk datang ke kelas dan meluangkan waktu di sela-sela kesibukannya sebagai Anggota Tim Gubernur memang murni untuk memberikan ilmu kepada kami semua, mahasiswa didiknya. Cita-cita kedepannya bahkan juga murni pengabdian, mengabdi pada dunia pendidikan dan saudara kita yang tidak mampu. Jelas bahwa bagi beliau, uang bukan segalanya. Itu impresi yang saya tangkap dari Mr. Robert.  Tema penting yang perlu kita tangkap adalah bagaimana Mr. Robert bisa memiliki pandangan untuk melakukan pengabdian seperti itu? Jawabannya adalah pada mindset.

Mindset ini harus dipegang teguh. Agar Indonesia dapat berubah, maka mindset kita harus berubah. Perubahan ini memang berat namun kita bias mulai dari kita sendiri, seperti Mr. Robert yang sudah sejak lama menetapkan mindset-nya untuk menjadi blessings bagi sesama. Dalam kesehariannya ini diwujudkan dalam banyak hal yang tidak bisa saya jabarkan disini karena sangat banyak sekali. Intinya, mindset ini sungguh luar biasa, mampu mengubah kita dan akhirnya mengubah jalan hidup kita, persis seperti yang dijelaskan Mr. Robert.

Wah luar biasa. Beliau memang sosok luar biasa, penuh pemikiran dan berjiwa pemimpin. Passion yang Mr. Robert tunjukkan sungguh sampai ke kami semua. Kami bias merasakan passion beliau untuk mendidik kita semua, mengajarkan ilmunya dan berbagi layaknya sahabat. Beliau suka dan sangat menikmati apapun yang beliau lakukan, asalkan menjadi berkat bagi semua. Dengan mindset demikian dan didukung dengan passion serta integritas, otomatis hasilnya luar biasa. Inilah yang ingin ditunjukkan Mr. Robert pada kami, cita-citanya bahwa suatu saat Indonesia bisa bangkit dan menjadi lebih baik. Mr. Robert sungguh patut dijadikan teladan, lebih dahulu memberi contoh pada kita untuk memiliki mindset yang benar dan menjadi agent of change bagi Indonesia.

Sosok pendidik, the real guru sudah saya temukan dalam diri Mr. Robert. Guru yang seperti inilah, yang akan lama dikenang oleh mahasiswanya, termasuk saya. Bahkan, ketika mahasiswa telah lulus dari program MM Ubaya ini dan (mungkin) bekerja di suatu tempat di manapun, seringkali moment-moment dengan Mr Robert pasti akan dirindukan dan menjadi sebuah kenangan indah tak terlupakan. Kalau boleh saya rangkum, kira-kira inilah poin-poin penting yang dimiliki oleh Mr. Robert yang membuat kami semua sangat menikmati masa-masa perkuliahan Budaya Organisasi:
  1. Menyampaikan informasi dasar dengan sangat baik, terlihat sekali bahwa beliau sangat menguasai bidang keilmuannya.
  2. Membuat hal yang sedang dibahas menjadi jelas, mengaitkan hal-hal yang diterangkan rinci dengan poin yang ingin disampaikan dan menyeimbangkan antara contoh spesifik dan prinsip-prinsip umum
  3. Membingkai informasi—menempatkannya dalam gambaran yang lebih besar (utuh). Sebelum menyajikan suatu topik, Mr Robert memberikan pengantar tentang topik yang akan dibahas. Ketika menjelaskan topik, beliau mengaitkan potongan-potongan informasi yang diberikan pada hal-hal yang telah disebutkan sebelumnya dan yang akan disebutkan kemudian. Sesudah menjelaskan topik tersebut, beliau memberikan ringkasan tentang topik yang telah dibahas.
  4. Berpindah dari topik ke topik secara terorganisasi.
  5. Menjawab pertanyaan dengan baik, berusaha mengetahui apa yang sebenarnya ingin diketahui oleh penanya. Mr. Robert menjawab pertanyaan tersebut secara langsung dengan cara yang menarik.
  6. Menjaga mahasiswa tetapi tertarik dan membuat suasana kelas hidup, Membuat variasi dalam memberikan kuliah dengan cara menjawab pertanyaan. Menceriterakan lelucon atau anekdot yang relevan. Juga jargon-jargonnya termasuk ‘the brekele things’ sangat lucu sekali menurut saya.
  7. Menguasai apa yang hendak disampaikan dan menyampaikan apa yg dikuasai. Beliau menguasai materi dengan baik, penyampaiannya bisa diterima dengan mudah, dan smart and up to date sehingga bisa memberikan penjelasan dengan contoh kasus yang ada.
  8. Memotivasi mahasiswa/i nya agar semakin baik prestasinya, semangat belajarnya
  9. Jelas Mr. Robert ingin mahasiwanya aktif dan tidak one man show
  10. Ramah dan fun namun tetap punya kharisma, sehingga sangat dihormati dan dikagumi mahasiswanya.
Saya beruntung telah masuk ke kelas Budaya Organisasi dan berkesempatan menimba ilmu dari Mr. Robert.
Terima kasih atas segala ilmu yang sudah diberikan pada kami. 
You're really a blessings for us.
 





Sandy Christian(MM 41)